Menikah Dengan Wanita Hamil


Sebelum kita memasuki kepermasalahan ini, maka sebaiknya kita membagikan wanita hamil itu kepada 3 (tiga) bahagian :
1. Wanita hamil yang sedang bersuami
2. Wanita hamil yang telah bercerai dengan suaminya, baik cerai hidup atau cerai mati
3. Wanita hamil yang tidak mempunyai suami yang sah, yaitu yang kandungannya berasal dari hasil zina.
A. Wanita hamil yang sedang bersuami
Wanita hamil yang masih status istri, maka jikalau dinikahkan dengan seseorang maka hukumnya tidak sah, dan islam melarang sangat keras akan masalah ini karna dia masih sah menjadi istri bagi suaminya, dalam islam dilarang wanita berpolyandri.

B. Wanita hamil yang bercerai
Wanita hamil yang telah bercerai dengan suaminya, baik cerai ketika suaminya masih hidup atau cerai mati maka boleh dinikahi ketika habis masa iddahnya ( sampai melahirkan ) kandungannya.

C. Wanita hamil yang tidak mempunyai suami yang sah
Wanita hamil yang tidak mempunyai suami yang sah, yaitu yang kandungannya berasal dari hasil zina.
Maka bagi wanita hamil yang hasil dari zina maka boleh dinikahi, karna status wanita hamil itu adalah sama dengan status tidak hamil karna anak yang di kandungnya tidak mempunyai status, tidak punya nasab, tidak mewarisi, tidak beriddah, dan tiada ruju’.

Dalil yang membolehkan menikahi wanita hamil

Tersebut di dalam kitab ianathutthalibin begini juz 4 bab nikah

وإن كان من زنا فوجوده كعدمه: إذ لا إحترام له

Jikalau hamil dari zina maka hamilnya itu sama saja dengan tiada hamil.

Didalam alqur’an surat An nur ayat 32

وَأَنْكِحُوا الأيَامَى

Dan kawinlah dengan orang-orang yang sendirian di antara kamu

lafal Ayaama adalah bentuk jamak dari lafal Ayyimun artinya wanita yang tidak mempunyai suami, baik perawan atau janda , jadi ayat ini masih umum asal janda atau masih sendiri maka boleh di kawinkan.
Maka ayat ini di takhsiskan dengan ayat berikut ini

وَأُولاتُ الأحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ

Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.
(At thalaq : 4)

Maka jelaslah bahwa ayat diatas menerangkan tentang iddah orang hamil baik mereka itu karena ditalak atau karena ditinggal mati oleh suaminya maka sampai melahirkan kandungannya.
Sepengetahuan penulis, Maka bagi wanita hamil hasil zina tidak sebutir pun dalil yang melarangnya.

Walaupun ada orang yang beranggapan jikalau wanita hamil hasil zina itu boleh maka akan mendorong orang semakin banyak berbuat zina karna seolah-olah zina itu di legalisirkan atau anak zina itu di akui nasabnya.
padahal dengan dibolehnya menikahi orang hamil hasil penzinahan dengan pacarnya atau dengan laki-laki lain, bahkan akan menghalangi perzinahan yang terus menerus dilakukannya, karna dia telah mendapat suami yang sah menurut hukum islam.

semoga apa yang saya tulis ini ber manfa’at dan bisa membawa manusia lepas dari penzinahan, hanya kepada Allah kami minta ampun dan minta petunjuk dan hanya mengharapkan keredhaan darinya.amiin ya rabbal’alamiin.
Alhamdulillah telah selesai sebuah tulisan yang saya buat yang tak lain saya kutib dari berbagai sumber, tulisan ini muncul dari permintaan shahabt saya.

About these ads

1 Komentar

Filed under arsip

One response to “Menikah Dengan Wanita Hamil

  1. Jenggot Mahakam

    terang benderang…:)=

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s